Pages

Thursday, November 23, 2023

Apa Itu Iman?


Iman menurut bahasa memiliki arti pembenaran dengan hati. Sedangkan menurut istilah, iman berarti:

تَصْدِيْقٌ بِالقَلْبِ، وَتَقْرِيْرُ بِالِّلسَانِ، وَعَمَلٌ بِاالأَرْكَانِ

"Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, serta mengamalkannya dengan anggota badan."

Dari pengertian diatas, maka tahulah kita bahwa iman bukanlah hal yang bisa kita anggap remeh, ataupun tidak patut diperhatikan. karena sejatinya, iman inilah pondasi utama yang harus kita miliki sebagai seorang muslim sejati, 
Membenarkan dengan hati, itu berarti menerima segala apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Bahwa didalam hati kita ini, benar-benar membenarkan segala kebenaran yang dibawa Rasulullah tersebut tanpa sedikitpun keraguan didalamnya. Akan tetapi, tidak cukup hanya dengan membenarkan dalam hati saja, tapi juga harus mengikrarkannya dengan lisan kita yaitu dengan mengucapkan kedua kalimat syahadat,
لاَإِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمّدً رَسُوْلُ الله
“Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Utusan Allah”
Lalu selanjutnya adalah, mengamalkannya dengan anggota badan. Yaitu mengamalkannya dalam bentuk perbuatan yang real, dalam bentuk ibadah-ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Apabila amal yang kita lakukan bertambah atau meningkat, maka Insya Allah keimanan kita pun akan bertambah. Tetapi apabila amal yang kita lakukan berkurang, bisa jadi keimanan kita juga sedang berkurang. Wallahua’lam.

#thesantriah
@anggunwahyunimz

Ibadah Tersulit

Dulu saya sempat berpikir untuk tidak akan menikah seumur hidup. Karena saya melihat kedua orang tua saya sepertinya antara bahagia dan tidak bahagia dengan rumah tangganya. Bapak saya seorang yang pemarah, sedang ibu saya seorang yang penyabar, meski begitu sangat sering saya mendengar keluhannya disaat beliau lelah mengurusi sepuluh anaknya sendirian. Yang paling terngiang adalah "Kenapa kalian tidak Matia saja sebagian? Kenapa saya tidak mati saja?" Saya sebagai anak kecil tidak begitu paham masalah orang dewasa, tapi yang saya pikirkan saat itu, saya tidak akan pernah menikah dan menikah itu adalah kesusahan, seperti yang ibu saya alami. Tentu saja banyak kenangan indah juga yang saya ingat, tetapi rasanya satu hal itu sangat sangat melekat dalam ingatan saya, meski mungkin ibu saya tidak mengingatnya karena mungkin itu hanya keluhan saja.

Setelah saya sekolah tinggi dan akhirnya menikah juga, saya jadi paham, ternyata hal itu bukanlah datang dari dirinya sendiri. Sejatinya itu datang karena faktor hormonnya. Sekali lagi saya menilik ibu saya, beliau kehilangan gigi-giginya, kuku-kuku cantikny jug sudah memudar, masa muda dihabiskan untuk mengurusi anak-anaknya sendirian dan juga suaminya yang pemarah. Betapa itu jalan yang sulit, tapi beliau tetap sabar dan menjalaninya meski dengan sedikit keluhan. Dulu ketika ibu saya 'curhat' tentang bapak saya yang keras kepala dan pemarah, saya selalu bilang "Cerai saja, sekarang broken home sudah jadi trend" Ya itulah pemikiran saya sebagai anak-anak. Saya berpikir, mengapa harus merepotkan diri sendiri? Ternyata hidup tidak semudah itu untuk ibu saya. Kata beliau menikah itu ibadah dan tidak ada ibadah yang mudah, karena itulah beliau selalu sabar mengabdikan diri dalam pernikahannya. 
Sekarang, bapak saya sudah tiada. Diakhir hidupnya ibu saya memberikan semua cintanya untuk merawatnya dari sakitnya. Semua anak-anaknya juga turut menemaninya. Dan lantas hal itu tidak membuat tanggung jawab pernikahan ibu terhenti disana, tapi terus berlanjut harus mendidik dan menafkahi beberapa anaknya yang masih kecil-kecil. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kelapangan hati, dan keteguhan iman kepada ibu saya. Saya sangat mencintainya.

Friday, March 12, 2021

Pengabdian

 Di penghujung pengabdian, aku sadar jua

Tak ada apapun jejak nadi yng kutinggalkan

Seberapa keras dan pedihnya jalan kemarin, 

hanya ilusi dari jubah kebesaranku yang kecil itu

Tersandung aku diakhir pemberhentian

Dengan perjuangan yang kuanggap megah

Lagi lagi, itu metafora kesombongan semata

Aku sejatinya tidak pernah mengabdi...

Aku sejatinya tidak pernah berjuang...

Hanya sangkaan diri saja

Hanya terkaan ego saja

"Kenapa merendah diri? Ibu guru sudah memberi banyak begi negeri!"

Apa yang kuberi?

Keluhan tentang tidak pernah digaji dan minta dipuji?

Apa yang kuberi?

Kata-kata manis untuk dapat rekomendasi?

Kalau itu yang kuberi, pantaskah ini disebut pengabdian?



Taiwang, 12 Maret 2021


Thursday, March 19, 2020

Tumbuh

Sepertinya, aku bersaudara dengan mimpi-mimpiku. Kami tumbuh bersama-sama. Entahlah itu perasaanku saja atau  memang benar adanya. Aku tidak tahu pasti. Tapi seingatku, mimpi-mimpiku berkembang  sesuai dengan pertumbuhanku. 
Jika dia orang, mungkin saja tinggi badannya akan sama denganku. Begitu pula berat badannya. Wah... pasti sangat menyenangkan! Kami akan pergi makan Cumi bakar tanpa bumbu di pantai bersama-sama. Lalu dia juga akan menyukai 10cm sepertiku.  Atau mungkin dia akan senantiasa mabar Mobile Legend bersamaku. Dan Ya! Kau benar! Itu sama sekali tidak mungkin terjadi. Hmmmm.... bagaimana ya? Kau tahu, aku tetap saja masih merasa seperti benar-benar bersaudara dengan mimpi-mimpiku bahkan dengan semua ketidakmungkinan itu! Kami sama-sama dipengaruhi oleh lingkungan yang beraneka ragam. 
Ketika aku kecil contohnya, orang-orang senang sekali dengan acara kontes dangdut di siaran televisi nasional. Saat itu, aku pun jadi suka musik dangdut. Dan mimpiku, ikut-ikutan ingin menjadi penyanyi dangdut! 
Bukan hanya itu saja, saat aku melihat Tom Cruise untuk pertama kalinya di Mission Impossible, aku jadi terobsesi ingin menjadi agen intelligen. Dan mimpiku tidak terlalu jauh, hanya ingin pergi ke Amerika. Hah. Entah mau apa kesana.
Dan saat beranjak remaja, aku mulai hobi nonton. Dari sinetron hingga film layar lebar, aku menyukainya. Aku selalu mencuri-curi waktu untuk menonton. Senakin sering menonton, aku semakin lihai menemukan perbedaan-perbedaan dari setiap filmnya. Jadi, aku mulai belajar membanding-bandingkan film satu dengan yang lainnya, untuk menemukan kelebihan dan kekurangan film-film tersebut. Aku pun jadi berpikir untuk membuatnya sendiri suatu saat nanti. Dan tentu saja mimpiku mendukungku. Dia ingin menjadi Sutradara.
Ku rasa itu adalah satu-satunya mimpi yang ingin sekali kuwujudkan. Aku merencanakan untuk kuliah di bidang perfilman setelah SMA nanti. Akan tetapi, di tahun aku lulus SMA, yang mana aku bersekolah di sebuah pondok pesantren (SMP-SMA), saat itu mulai terjadi pembenahan sistem untuk kembali ke sistem pesantren seutuhnya. Jadi berlakulah 'Pengabdian Wajib' satu tahun untuk seluruh siswa-siswi akhir setelah menamatkan sekolah menengah atas. 
Hampir semua teman-temanku mengeluh tentang itu. 'Bagaimana kuliahnya?' atau 'Kan tidak ada diperjanjian awal masuk!' atau statement lain sudah dikeluhkan semua orang saat itu. Yaaaa... tentu saja itu wajar karena masih asing. Tapi ujung ceritanya, semua teman-temanku menaati peraturan itu, dan jadilah kami tidak langsung kuliah setelah SMA, tetapi mengabdikan diri selama satu tahun dengan mengajar di Pondok kami, atau pondok-pondok lain yang telah ditetapkan.
Aku juga jadinya mengubah rencanaku yang sudah kuatur matang-matang, jauh sebelum lulus. Aku memutuskan untuk belajar giat selama setahun itu untuk nantinya bisa diterima di universitas yang aku impikan. Akan tetapi diujung masa pengabdianku, aku mulai merenung kembali tentang tujuan dari keputusanku yang sudah bulat itu. Aku berdiskusi dengan mimpiku sendiri. Dia bertanya padaku tentang apa tujuanku ingin belajar perfilman. Aku katakan padanya bahwa aku ingin menginspirasi banyak orang dengan film-filmku nantinya. Singkatnya, aku ingin memberi manfaat untuk banyak orang melalui karyaku. Lalu dia menatapku dan merangkul bahuku, "Anggun, kalau memang benar ingin memberi manfaat untuk orang banyak, maka yang kamu lakukan sekarang itu manfaatnya lebih besar dari membuat film. Diluar sana sudah banyak orang yang melakukan hal itu untukmu."  Aku terdiam. Aku dan mimpi-mimpiku itu bersaudara. Kami tumbuh bersama-sama. Dan terkadang, dia lebih mengerti aku dari diriku sendiri. Itulah kenapa aku tetap bersikeras mengatakan 'kami bersaudara'. Aduh. Ini kenapa jadi tidak jelas ya? Akhhhh! Intinya, aku pun tidak jadi mengambil kuliah perfilman dan memutuskan untuk tetap mengabdi!

Wednesday, January 3, 2018

Alasan Melepas Hijab - Klise!


Setiap masalah itu punya seribu satu solusi. Dan setiap solusi, itu punya ribuan cabang langkah-langkah penyelesaian yang dapat dikerjakan. Begitu juga saat kita tidak menyukai sesuatu, atau tidak menginginkan sesuatu itu terjadi, atau tidak mau melakukannya, kita juga punya seribu satu alasan untuk membantahnya, atau untuk menghindarinya. 
Salah satu hal yang paling fenomenal untuk memiliki seribu alasan yang dihindari adalah berhijab untuk wanita muslimah.
Entah kenapa banyak wanita muslimah yang tidak mau berhijab. Ini merupakan keanehan yang lumrah dimasyarakat kita, karena ia memiliki alasan yang sangat klise sekali: "Ingin menghijabkan hati dulu, baru menghijabkan kepala". KLISE! 
Tahukah anda bahwa hati dan aurat itu adalah dua hal yang berbeda? Ya tentu saja. Menghijabkan hati, itu bukanlah hal yang mudah. Karena seandainya anda ingin menghijabkan hati, sampai kapanpun itu tidak akan bisa sempurna. Sedangkan berhijab, itu langsung pakai saja. Tidak perlu lama-lama. Lalu itu menjadi motivasi terbesar untuk dapat menghijabkan hati. Dan yang harus diingat, bahwa berhijab itu bukan sesuatu yang bisa dipilih. Itu kewajiban. Bukan sunnah ataupun mubah. Itu Wajib. Kalau ada yang bilang itu pilihan, maka mungkin ia juga termasuk dalam salah satu orang yang suka membuat alasan sampai seribu, padahal semua toh jadi klise juga.

Jangan Pura-Pura Lupa!


Bumi adalah satu-satunya planet  yang saat ini kita tempati. Kita tidak tahu diluar sana mungkin saja ada planet yang lebih indah dan layak selain bumi untuk ditempati. Tapi kita, manusia,  terlalu ‘lemah’ untuk mencarinya. Dan untuk apa juga kita harus repot-repot mencari tahu, padahal jika seandainya nanti kita sudah dapat menemukannya, belum tentu kita akan dapat pergi sana dan pindah rumah kesana. Karena dengan usia kita yang hanya sejengkal ini tak akan cukup untuk melakukan perjalanan kesana, walaupun kita menempuhnya dari dalam kandungan hingga ke liang lahat.
Jika kita ingin pergi ke tempat selain bumi, sebenarnya mudah saja. Dan kita semua juga pasti akan pergi kesana. Pasti! Kapan? Nanti jika ajal sudah datang kepada kita. Kita akan pergi dari bumi tanpa harus menabung uang yang banyak. Tak perlu buat paspor. Ataupun harus repot wawancara untuk dapat visa. Perjalanannya gratis-tis-tis! Diantar bak raja. Pakaiannya pun dipakaikan orang lain seperti keluarga kerajaan jaman jeseon. Anda tertarik untuk berangkat duluan?
Kata-kata diatas mungkin terlalu menusuk bagi kita yang sangat tak siap untuk mati. Tapi mau dikata apalagi, itu pasti akan datang. Kita semua akan mati. Akan pulang meninggalkan bumi. Meninggalkan semua harta, orang-orang yang kita cintai dan ketenaran yang kita miliki. Tapi terkadang kita ‘lupa’ akan hal ini. Oh, bukan lupa, tepatnya ‘pura-pura lupa’. Seakan tidak mau tahu dengan kematian yang siap memburu kita setiap saat. Kita ‘pura-pura lupa’ dengan tujuan kita diciptakan, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah Berfirman dalam al quran surah az-zariyat ayat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنْسَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ.
dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
Kita semakin hari semakin sibuk dengan misi hidup kita masing-masing. Melupakan misi utama kita sebagai manusia. Padahal kita sendiri yang hanya akan rugi jika tidak menjalankannya. Allah tidak rugi sama sekali jika kita tidak menyembah-Nya. Tidak sama sekali!
Pembaca yang budiman, ada sebuah kalimat yang luar biasa membuat merinding, dari seorang sahabat  Nabi SAW, yaitu Ibnu Mas’ud r.a, beliau mengungkapkan “ setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan hartanya adalah pinjaman. Tamu itu pasti akan pergi cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan”.
Jadi marilah kita siapkan hidup kita ini untuk sebuah perjalan ‘penting’ yang pasti akan kita lalui nanti. Karena sesungguhnya  perjalanan yang satu itu jika sudah waktunya, maka dia tidak akan mundur walau sesaat, ataupun bisa dimajukan beberapa saat. Allah Berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ اَجَلٌ فَإِذَاجَآءَ اَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ.
“Dan setiap umat mempunyai ajal(batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun”.
Semoga Bermanfaat:)

What Ever It Takes, Life Must Go On!



Dalam hidup banyak hal yang kadang kala membuat kita terluka. Meskipun tak sedikit juga yang membuat kita tersenyum, tetap saja kita sangat sedih jika sedang terluka. Kadang luka yang begitu dalam mampu membuat kita kehilangan harapan untuk hidup. Membuat kita bisu dengan segala macam bahasa yang telah kita kuasai. Hal-hal yang membuat kita terluka kadang kala adalah hal yang tidak kita inginkan terjadi. Mungkin itu adalah saat orang yang kita sayangi tiada. Atau mungkin juga ketika seseorang yang kita sayang, ternyata tidak menyayangi kita dan malah lebih memilih orang lain.  Sebenarnya apasih yang bisa membuat kita tidak terluka?
Haruskah Tuhan menciptakan kita ulang dengan bahan anti gores atau semacamnya? Atau tak usah hidup sekalian? Huftttt. Saya juga bingung. Kadang ingin rasanya tidak sedih sama sekali. Tidak menangis sama sekali. Tidak terluka sama sekali. Tapi mau dikata apalagi, saya dan anda adalah manusia, yang pasti pernah merasa sedih, pernah menangis, juga pernah terluka. Cuma mungkin hal yang membuat kita merasa seperti itu yang berbeda. Atau juga cara kita menyikapinya yang berbeda. Kadang ada orang yang karena sedang bersedih dia lantas bunuh diri. Tapi ada juga orang sedihnya sama, tapi dia tetap melanjutkan hidupnya dengan ceria. Nah seharusnya kita bersikap seperti yang mana, yang bunuh diri atau yang tetap menjalani hidup?
Itu tergantung pada pilihan kita sendiri. Tapi saya sarankan, 
tetaplah untuk hidup betapapun menyedihkannya hidup anda. Karena sebagaimanapun sakitnya menjalani hidup, tetap saja hidup itu anugerah. Jika anda tidak hidup, bagaimana mungkin anda bisa merasakan sakit dan pedih. Kehidupan itu tidak akan berhenti hanya sampai anda mati. Ia akan terus berlanjut sampai waktunya tiba. Jadi jika anda bunuh diri, itu tidak akan merubah apa-apa. Tidak ada gunanya. Hiduplah selagi anda masih diberi kesempatan untuk hidup. Karena belum tentu disaat anda telah mati, lantas itu akan membuat anda tenang. Justeru itu akan membuat anda semakin terluka karena tidak bisa tenang. bagaimana mau tenang jika anda mengahiri hidup anda dengan tangan anda sendiri sedang itu adalah hal yang sangat dibenci oleh Tuhan. Maukah Tuhan membuat anda tenang? Pastinya, TIDAK!
So, nikmati saja hidup yang singkat ini. sebagaimanapun keras dan pedihnya. Percaya sajalah, bahwa 'bersama kesusahan itu kemudahan' itu janji Allah SWT dalam Al-Quran. 

Maka sudah pasti itu benar. Tak perlu dikorek-korek lagi. Jadi, What ever it takes life must go on, ya...

Bahagia Tanpa Bayar


Bahagia. Sebuah kata keramat yang bisa membuat manusia selalu ingin berlari kearahnya. Bahagia. Sebuah tujuan yang fana untuk orang-orang yang ingin menggapainya, tetapi tidak tahu dimana ‘bahagia’ itu berada. Orang-orang berlomba-lomba ingin bahagia. Tak sedikit yang bekerja banting tulang hanya karena ingin hidup bahagia. Banyak yang mengira bahwa bahagia akan didapatkan jika sudah memiliki harta berlimpah, rumah mewah, dan kebutuhan mewah lainnya tercukupi. Padahal belum tentu bahagia akan datang dengan dengan ‘itu’. Orang bilang bahagia itu relatif. Artinya setiap orang punya definisi ‘bahagia’ nya sendiri. Tak harus terikat dengan wikipedia ataupun KBBI. Akan tetapi tak sedikit orang yang menggapai definisi ‘bahagia’ nya sendiri saja tidak bisa, apalagi mau memakai definisi bahagia orang lain. Lantas, sebenarnya dimana bahagia itu? Mengapa untuk merasakan hal ini saja sampai membuat banyak orang bekerja mati-matian bahkan tak sedikit yang ujung-ujungnya merasa kecewa, hampa dan frustasi karena tak kunjung bertemu yang namanya ’bahagia’? Sebenarnya bahagia itu sederhana. Ia ada dekat dengan kita. Yaitu di dalam hati kita. Hati yang selalu merasa cukup. Karena pada dasarnya hidup kita hanya tentang dua hal saja: senang dan susah. Nah, sekarang masalahnya adalah, jika hidup kita ini hanya tentang senang dan susah, berarti sebenarnya yang namanya bahagia ini tidak ada. Karena orang yang hidupnya senang saja belum tentu bahagia, apalagi yang hidupnya susah! Pembaca yang budiman, ingatkah anda pada dua ayat surah al-baqarah ayat 152 dan 153?

Al-baqarah 152 menyebutkan : فَاذْكُرُوْنِىْ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْنِ.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat(pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”
Menurut saya, ayat ini memberikan kita rumus bahagia ketika kita dalam keadaan senang, yaitu dengan cara ‘bersyukur’. Jika Allah SWT memberikan kita kesenangan, maka kita harus mensyukurinya. Jika kita bersyukur tentu saja hati kita akan menjadi tenang, dan bahagia pun bukan hal yang asing lagi untuk kita. Tetapi jika kita tidak bersyukur, boro-boro akan bahagia, tenang saja tidak! Lalu ayat selanjutnya, yaitu Al-Baqarah ayat 153 yang berbunyi: يَاَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ اِنَّ اللهَ مَعَ الصّابِرِيْنَ “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat; sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Ayat ini tepat setelah ayat 152 tadi. Jika ayat 152 tadi memberikan kita rumus tentang bagaimana cara bahagia ketika senang, maka ayat 153 ini memberikan kita rumus ‘bahagia’ selanjutnya, yaitu cara bahagia ketika dalam keadaan susah. Rumusnya adalah dengan ‘bersabar’. Saat kita dalam keadaan susah maka kita harus bersabar. Kita harus yakin bahwa dengan ‘susah’ itu Allah akan mengangkat derajat kita. Kita harus bersabar. Kita yakin dengan pertolongan Allah yang tak pernah absen mendatangi kita, pasti akan segera datang! Jika kita bersabar, maka dalam keadaan susah pun kita tetap bisa tersenyum. Tetap merasa bahagia. Oleh karena itu, pembaca yang budiman, marilah kita masukan dua rumus hidup bahagia ini dalam hidup kita : ‘ Bersyukur’ ketika senang dan ‘Bersabar’ ketika susah. Jika kedua rumus ini kita aplikasikan, maka kita sudah tidak punya alasan lagi untuk tidak bahagia.[]

Hal - Hal Yang Dapat Membatalkan Iman


Sebagaimana kita ketahui, iman merupakan pondasi utama untuk menjadi seorang muslim. Dan perlu diketahui bahwa ada beberapa hal yang dapat menggugurkan keimanan tersebut, atau dapat membatalkan iman setelah iman itu masuk ke dalam hati kita. Dan hal inilah yang harus kita waspadai. Adapun hal-hal yang dapat membatalkan iman itu diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mengingkari rububiyah Allah atau mengingkari sesuatu yang dari kekhususan-kekhususan-Nya, atau mengakunmemiliki sesuatu dari kekhususan tersebut atau membenarkan orang yang mengakuinya. 
  2. Sombong serta menolak  beribadah kepada Allah SWT.
  3. Menjadikan perantara dan penolong yang ia sembahh atau mintai (pertolongan) selain Allah SWT.
  4. Menolak sesuatu yang telah ditetapkan Allah untuk diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya. Begitu pula orang yang meyifati seseorang (makhluk) dengan sesuatu sifat yang khusus bagi Allah, seperti ilmu Allah. Termasuk juga menetapkan sesuatu yang dinafikan Allah dari diri-Nya atau yang telah dinafikan dari-Nya oleh Rasul-Nya.
  5. Mendustakan Rasulullah SAW tentang sesuatu yang beliau bawa.
  6. Berkeyakinan bahwa petunjuk Rasulullah SAW tidak sempurna atau menolak suatu hukum syara' yang telah Allah turunkan kepadanya, atau meyakini bahwa selain hukum Allah itu lebih baik, lebih sempurna dan lebih memenuhi hajat manusia, atau meyakini kesamaan hukum Allah dan Rasul-Nya dengan hukum selainnya, atau meyakini dibolehkannya berhukum dengan selain hukum Allah.
  7. Tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu dengan kekafiran mereka, sebab hal itu berarti meragukan apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
  8. Mengolok-olok atau menjelek-jelekan Allah atau Al-Quran atau agama Islam atau pahala dan siksa dan yang sejenisnya, atau mengolok-olok Rasulullah atau seorang Nabi, baik itu gurauan maupun sungguhan.
  9. Mambantu orang musyrik atau menolong mereka untuk memusuhi orang muslim.
  10. Meyakini bahwa orang-orang tertentu boleh keluar dari ajaran rasulullah SAW dan tidak wajib mengikuti  ajaran beliau.
  11. Berpaling dari agama Allah, tidak mau mempelajari serata tidak mau mengamalkannya. 
Itulah sebagian dari pembatal-pembatal iman yang paling nyata. Masih banyak pembatal-pembatal imna yang lain seperti sihir, menolak Al-Quran baik sebagian maupun keseluruhannya, atau meragukan kemukjizatannya atau menghina mushaf atau sebagiannya, atau menghalalkan sesuatu yang sudah disepakati keharamannya seperti zina atau khamr, atau menghujat agama serta mencelanya. Na'udzu billah min dzalik. Wallahu a'lam!


Sumber: Kitab Tauhid 2, Tim Ahli Ilmu Tauhid

Melepaskan Hati Dari Dunia



Ibnu Umar merpakan salah satu dari pembesar yang telah mengjilangkan keterikatan hatinya dengan dunia, sehingga ia menolak untuk menjadi kalifah meskipun kalau dilihat dari sisi kapasitasnya, ia mampu memegang kendali pemerintahan pada saat itu. Akan tetapi beliau mengikuti nasehat Rasulullah SAW sehingga jadilah ia sebagai orang asing dan pengembara sejati di dunia.
Melepaskan hati dari dunia artinya mengambil dunia sesuai dengan kebutuhan dan kemanfaatannya dan jangan sampai dunia itu memalingkan kita terhadap Allah SWT. Hendaknya kita menjadikan dunia sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Ada beberapa ulama yang mendefinisikan arti zuhud, diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Zuhud adalah melepaskan diri dari dunia secara penuh. Hal ini merupakan penafsiran yang salah.
  • Zuhud adalah menghindarkan diri dari sesuatu yang haram. Definisi seperti ini  - sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ahmad - kalau memang benar sebagaiman yang beliau utarakan, maka secara otomatis hampir semua manusia beriman telah melakukannya.
  • Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tiada nilainya di akhirat. Adapun meninggalkan perbuatan yang bernilai untuk kehidupan akhirat itu tidak termasuk dalam kategori zuhud. Pengertian zuhud yang terakhir ini sebagaimana yang telah diutarakan Ibnu Taimiyyah.
Sumber: Jangan Takut Hadapi Hidup, Dr. Aidh Abdullah Al-Qarny

Pacaran Itu Dosa Besar Atau Dosa kecil?



Di zaman sekarang ini, pacaran sudah menjadi hal yang lumrah dikalangan anak remaja, orang dewasa maupun anak-anak. Hal ini mungkin bisa disebabkan oleh faktor lingkungan yang menyediakan contoh pacaran dimana-mana. Seolah-olah ini sudah menjadi budaya masyarakat dan tren yang tak bisa dilepaskan. Tanpa terkecuali, umat islam juga banyak yang turut berpartisipasi dalam maksiat ini. Dan tidak sedikit dari mereka yang berdalih dengan pacaran islamilah, atau pacaran dibawah kontrol orang tua, pacaran untuk meningkatkan prestasi belajar dan sebagainya.
Dalam budaya berpacaran masyakat kita saat ini, memang belum seekstrim berpacaran diluar sana. Paling hanya sekedar melirik-lirik, telpon-telponan, atau mungkin hanya status saja. Dan karena itu tidak terlalu dianggap serius, karena yang dilakukan dalam pacarannya hanya "dosa kecil saja". Ini justeru yang harus digaris bawahi. 
Memang, zina mata itu masih tergolong dosa kecil. Tetapi dosa yang kecil ini apabila dilakukan dengan berani, atau dengan kata lain diremehkan dosanya, karena jenisnya kecil, maka ini sudah termasuk dalam dosa besar. Juga dosa-dosa kecil apabila ditumpuk, maka semakin hari akan semakin meninggi hingga membawa kita terpeleset hingga ke Neraka. Lagipula, pacaran itu menjerumuskan kita kepada dosa yang besar, yaitu berzina. Maka menghindarinya itu lebih tepat dari pada harus menimbang-nimbang berat dosanya. Padahal kita saja tidak tahu sudah berapa amal kita yang benar-benar diterima Allah. Bisa jadi karena berpacaran, rahmat Allah semakin menjauh bahkan mungkin akan meninggalkan kita. 
'Oh, saya pacarannya gak ngapa-ngapain kok..'
Justeru disitu bodohnya. Kalau sudah tahu dengan pacaran tidak boleh ngapa-ngapain, terus ngapain pacaran?

Apa Itu Iman?

Iman menurut bahasa memiliki arti  pembenaran dengan hati.  Sedangkan menurut istilah, iman berarti: تَصْدِيْقٌ بِالقَلْبِ، وَتَقْر...