Setelah saya sekolah tinggi dan akhirnya menikah juga, saya jadi paham, ternyata hal itu bukanlah datang dari dirinya sendiri. Sejatinya itu datang karena faktor hormonnya. Sekali lagi saya menilik ibu saya, beliau kehilangan gigi-giginya, kuku-kuku cantikny jug sudah memudar, masa muda dihabiskan untuk mengurusi anak-anaknya sendirian dan juga suaminya yang pemarah. Betapa itu jalan yang sulit, tapi beliau tetap sabar dan menjalaninya meski dengan sedikit keluhan. Dulu ketika ibu saya 'curhat' tentang bapak saya yang keras kepala dan pemarah, saya selalu bilang "Cerai saja, sekarang broken home sudah jadi trend" Ya itulah pemikiran saya sebagai anak-anak. Saya berpikir, mengapa harus merepotkan diri sendiri? Ternyata hidup tidak semudah itu untuk ibu saya. Kata beliau menikah itu ibadah dan tidak ada ibadah yang mudah, karena itulah beliau selalu sabar mengabdikan diri dalam pernikahannya.
Sekarang, bapak saya sudah tiada. Diakhir hidupnya ibu saya memberikan semua cintanya untuk merawatnya dari sakitnya. Semua anak-anaknya juga turut menemaninya. Dan lantas hal itu tidak membuat tanggung jawab pernikahan ibu terhenti disana, tapi terus berlanjut harus mendidik dan menafkahi beberapa anaknya yang masih kecil-kecil. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kelapangan hati, dan keteguhan iman kepada ibu saya. Saya sangat mencintainya.
No comments:
Post a Comment