Pages

Thursday, March 19, 2020

Tumbuh

Sepertinya, aku bersaudara dengan mimpi-mimpiku. Kami tumbuh bersama-sama. Entahlah itu perasaanku saja atau  memang benar adanya. Aku tidak tahu pasti. Tapi seingatku, mimpi-mimpiku berkembang  sesuai dengan pertumbuhanku. 
Jika dia orang, mungkin saja tinggi badannya akan sama denganku. Begitu pula berat badannya. Wah... pasti sangat menyenangkan! Kami akan pergi makan Cumi bakar tanpa bumbu di pantai bersama-sama. Lalu dia juga akan menyukai 10cm sepertiku.  Atau mungkin dia akan senantiasa mabar Mobile Legend bersamaku. Dan Ya! Kau benar! Itu sama sekali tidak mungkin terjadi. Hmmmm.... bagaimana ya? Kau tahu, aku tetap saja masih merasa seperti benar-benar bersaudara dengan mimpi-mimpiku bahkan dengan semua ketidakmungkinan itu! Kami sama-sama dipengaruhi oleh lingkungan yang beraneka ragam. 
Ketika aku kecil contohnya, orang-orang senang sekali dengan acara kontes dangdut di siaran televisi nasional. Saat itu, aku pun jadi suka musik dangdut. Dan mimpiku, ikut-ikutan ingin menjadi penyanyi dangdut! 
Bukan hanya itu saja, saat aku melihat Tom Cruise untuk pertama kalinya di Mission Impossible, aku jadi terobsesi ingin menjadi agen intelligen. Dan mimpiku tidak terlalu jauh, hanya ingin pergi ke Amerika. Hah. Entah mau apa kesana.
Dan saat beranjak remaja, aku mulai hobi nonton. Dari sinetron hingga film layar lebar, aku menyukainya. Aku selalu mencuri-curi waktu untuk menonton. Senakin sering menonton, aku semakin lihai menemukan perbedaan-perbedaan dari setiap filmnya. Jadi, aku mulai belajar membanding-bandingkan film satu dengan yang lainnya, untuk menemukan kelebihan dan kekurangan film-film tersebut. Aku pun jadi berpikir untuk membuatnya sendiri suatu saat nanti. Dan tentu saja mimpiku mendukungku. Dia ingin menjadi Sutradara.
Ku rasa itu adalah satu-satunya mimpi yang ingin sekali kuwujudkan. Aku merencanakan untuk kuliah di bidang perfilman setelah SMA nanti. Akan tetapi, di tahun aku lulus SMA, yang mana aku bersekolah di sebuah pondok pesantren (SMP-SMA), saat itu mulai terjadi pembenahan sistem untuk kembali ke sistem pesantren seutuhnya. Jadi berlakulah 'Pengabdian Wajib' satu tahun untuk seluruh siswa-siswi akhir setelah menamatkan sekolah menengah atas. 
Hampir semua teman-temanku mengeluh tentang itu. 'Bagaimana kuliahnya?' atau 'Kan tidak ada diperjanjian awal masuk!' atau statement lain sudah dikeluhkan semua orang saat itu. Yaaaa... tentu saja itu wajar karena masih asing. Tapi ujung ceritanya, semua teman-temanku menaati peraturan itu, dan jadilah kami tidak langsung kuliah setelah SMA, tetapi mengabdikan diri selama satu tahun dengan mengajar di Pondok kami, atau pondok-pondok lain yang telah ditetapkan.
Aku juga jadinya mengubah rencanaku yang sudah kuatur matang-matang, jauh sebelum lulus. Aku memutuskan untuk belajar giat selama setahun itu untuk nantinya bisa diterima di universitas yang aku impikan. Akan tetapi diujung masa pengabdianku, aku mulai merenung kembali tentang tujuan dari keputusanku yang sudah bulat itu. Aku berdiskusi dengan mimpiku sendiri. Dia bertanya padaku tentang apa tujuanku ingin belajar perfilman. Aku katakan padanya bahwa aku ingin menginspirasi banyak orang dengan film-filmku nantinya. Singkatnya, aku ingin memberi manfaat untuk banyak orang melalui karyaku. Lalu dia menatapku dan merangkul bahuku, "Anggun, kalau memang benar ingin memberi manfaat untuk orang banyak, maka yang kamu lakukan sekarang itu manfaatnya lebih besar dari membuat film. Diluar sana sudah banyak orang yang melakukan hal itu untukmu."  Aku terdiam. Aku dan mimpi-mimpiku itu bersaudara. Kami tumbuh bersama-sama. Dan terkadang, dia lebih mengerti aku dari diriku sendiri. Itulah kenapa aku tetap bersikeras mengatakan 'kami bersaudara'. Aduh. Ini kenapa jadi tidak jelas ya? Akhhhh! Intinya, aku pun tidak jadi mengambil kuliah perfilman dan memutuskan untuk tetap mengabdi!

No comments:

Post a Comment

Apa Itu Iman?

Iman menurut bahasa memiliki arti  pembenaran dengan hati.  Sedangkan menurut istilah, iman berarti: تَصْدِيْقٌ بِالقَلْبِ، وَتَقْر...