Pages

Thursday, November 23, 2023

Apa Itu Iman?


Iman menurut bahasa memiliki arti pembenaran dengan hati. Sedangkan menurut istilah, iman berarti:

تَصْدِيْقٌ بِالقَلْبِ، وَتَقْرِيْرُ بِالِّلسَانِ، وَعَمَلٌ بِاالأَرْكَانِ

"Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, serta mengamalkannya dengan anggota badan."

Dari pengertian diatas, maka tahulah kita bahwa iman bukanlah hal yang bisa kita anggap remeh, ataupun tidak patut diperhatikan. karena sejatinya, iman inilah pondasi utama yang harus kita miliki sebagai seorang muslim sejati, 
Membenarkan dengan hati, itu berarti menerima segala apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Bahwa didalam hati kita ini, benar-benar membenarkan segala kebenaran yang dibawa Rasulullah tersebut tanpa sedikitpun keraguan didalamnya. Akan tetapi, tidak cukup hanya dengan membenarkan dalam hati saja, tapi juga harus mengikrarkannya dengan lisan kita yaitu dengan mengucapkan kedua kalimat syahadat,
لاَإِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمّدً رَسُوْلُ الله
“Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Utusan Allah”
Lalu selanjutnya adalah, mengamalkannya dengan anggota badan. Yaitu mengamalkannya dalam bentuk perbuatan yang real, dalam bentuk ibadah-ibadah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Apabila amal yang kita lakukan bertambah atau meningkat, maka Insya Allah keimanan kita pun akan bertambah. Tetapi apabila amal yang kita lakukan berkurang, bisa jadi keimanan kita juga sedang berkurang. Wallahua’lam.

#thesantriah
@anggunwahyunimz

Ibadah Tersulit

Dulu saya sempat berpikir untuk tidak akan menikah seumur hidup. Karena saya melihat kedua orang tua saya sepertinya antara bahagia dan tidak bahagia dengan rumah tangganya. Bapak saya seorang yang pemarah, sedang ibu saya seorang yang penyabar, meski begitu sangat sering saya mendengar keluhannya disaat beliau lelah mengurusi sepuluh anaknya sendirian. Yang paling terngiang adalah "Kenapa kalian tidak Matia saja sebagian? Kenapa saya tidak mati saja?" Saya sebagai anak kecil tidak begitu paham masalah orang dewasa, tapi yang saya pikirkan saat itu, saya tidak akan pernah menikah dan menikah itu adalah kesusahan, seperti yang ibu saya alami. Tentu saja banyak kenangan indah juga yang saya ingat, tetapi rasanya satu hal itu sangat sangat melekat dalam ingatan saya, meski mungkin ibu saya tidak mengingatnya karena mungkin itu hanya keluhan saja.

Setelah saya sekolah tinggi dan akhirnya menikah juga, saya jadi paham, ternyata hal itu bukanlah datang dari dirinya sendiri. Sejatinya itu datang karena faktor hormonnya. Sekali lagi saya menilik ibu saya, beliau kehilangan gigi-giginya, kuku-kuku cantikny jug sudah memudar, masa muda dihabiskan untuk mengurusi anak-anaknya sendirian dan juga suaminya yang pemarah. Betapa itu jalan yang sulit, tapi beliau tetap sabar dan menjalaninya meski dengan sedikit keluhan. Dulu ketika ibu saya 'curhat' tentang bapak saya yang keras kepala dan pemarah, saya selalu bilang "Cerai saja, sekarang broken home sudah jadi trend" Ya itulah pemikiran saya sebagai anak-anak. Saya berpikir, mengapa harus merepotkan diri sendiri? Ternyata hidup tidak semudah itu untuk ibu saya. Kata beliau menikah itu ibadah dan tidak ada ibadah yang mudah, karena itulah beliau selalu sabar mengabdikan diri dalam pernikahannya. 
Sekarang, bapak saya sudah tiada. Diakhir hidupnya ibu saya memberikan semua cintanya untuk merawatnya dari sakitnya. Semua anak-anaknya juga turut menemaninya. Dan lantas hal itu tidak membuat tanggung jawab pernikahan ibu terhenti disana, tapi terus berlanjut harus mendidik dan menafkahi beberapa anaknya yang masih kecil-kecil. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kelapangan hati, dan keteguhan iman kepada ibu saya. Saya sangat mencintainya.

Apa Itu Iman?

Iman menurut bahasa memiliki arti  pembenaran dengan hati.  Sedangkan menurut istilah, iman berarti: تَصْدِيْقٌ بِالقَلْبِ، وَتَقْر...